Cap Go Meh

barongsai

Banyak banget orang hari ini, semua keluar rumah mo nyaksiin pawai di pusat kota di daerah ku. Kata Papa, hari ini adalah hari Cap Go Meh yang biasa dirayain oleh masyarakat Indonesia dari etnis keturunan Cina.

“Perayaannya dilakukan 15 hari dari hari raya Imlek yang bisa kita tinjau dari pecahan kata-kata Cap Go Meh yang berdasarkan suku katanya adalah Cap itu artinya 10, Go itu artinya 5 jadi kalo ditambah kan jadi 15… ya mungkin itu artinya!” kata Papa setengah yakin setengah ngga’ yakin, karena aku tahu Papa emang sama sekali ngga’ ngerti bahasa Mandarin.

Rada lama nungguin iring-iringan pawai itu lewat dan aku sudah ngga’ sabar karena dari dulu aku kepingin liat Barongsai secara langsung, karena selama ini aku cuma liat di acara TV aja. Bayangin aja… aku udah nunggu dari jam setengah 4 dan sekarang udah jam 5 kurang dikit.
Tapi… nah itu dia… “akhirnya datang juga”… Semua penonton dari seantero kampung makin berdesakan dan terus melangkah maju supaya bisa menyaksikan pawai ini lebih dekat.

naga

Barisan pertama yang lewat adalah kelompok marching band dengan iringan pasukan pembawa bendera merah putih dan bendera-bendera kecil bertuliskan simbol-simbol dalam huruf Mandarin yang kalo ku tanya ke Papa… Papa pasti ga bisa jawab.

Dan ini dia yang kutunggu… Barongsainya mulai kelihatan loncat-loncat diringi dengan Naga yang panjang sekali. Tapi sayang… kenapa acara budaya semenarik ini ngga’ didukung dengan penertiban yang memadai. Dan kaya’nya instansi-instansi pemerintahan daerah yang terkait ngga’ memberi dukungan secara serius untuk mengatur yang perlu diatur supaya acara ini berlangsung dengan baik.

ondel2

Sebagai contoh, pada saat pawai berlangsung semua kegiatan transportasi umum dan kendaraan-kendaraan lain tetap berjalan seperti biasa sehingga harus berebutan jalan antara iring-iringan pawai, kumpulan masyarakat penonton dan angkot ditambah kendaraan pribadi serta motor-motor. Padahal menurut desas desus dana yang dikeluarkan untuk terselenggaranya acara ini sekitar 2 milyar rupiah yang tentunya masuk ke ‘kantong-kantong’ instansi terkait untuk mengurus perijinan dan tetek-bengek demi terselenggaranya acara. Tapi kok… ???

Sayang banget rasanya… acara ini merupakan acara budaya yang bukan lagi hanya menjadi milik etnis keturunan Cina tetapi sudah menjadi milik bangsa Indonesia sekarang. Dan dengan begitu bangsa Indonesia menjadi bertambah kaya akan keanekaragaman khazanah budaya yang tentunya harus tetap dijaga dan dilestarikan.
Sayang di sayang….

Leave a Reply