Ada Kebaikan Dari Rencana Tuhan
“Innalillaahi…” ketika Papa mendengar berita kematian ayah dari seorang sahabat Papa.
Ya, sore itu 31 Oktober 2008, Papa dapet SMS dari sahabat Papa yang lain tentang berita duka cita ini (by the way… ngga’ nyangka Papa punya banyak sahabat, ya!).
Yang menjadi perhatian Papa adalah bahwa keluarga yang berduka ini sedang dalam keadaan terpecah karena suatu masalah keluarga, dan sahabat Papa ini termasuk sebagai korban permasalahan sehingga harus pergi atau boleh dibilang terusir dari rumah keluarga besarnya sejak dari beberapa bulan lalu. Sahabat Papa ini, setelah mendengar berita kematian ayahnya di rumah kontrakannya, terdiam sejenak … menerawang beberapa saat sebelum berangkat menemui almarhum ayah. Entah apa yang ada dipikirannya… sedih, sudah pasti… menyesal karena ngga’ sempat bertemu disaat-saat terakhir hidup sang ayah, mungkin…
Mungkin timbul keraguan atau ketidakberanian ketika memasuki halaman rumah tempat dia tinggal dan dibesarkan, karena semua kakak lelakinya memusuhinya, tapi mau dibilang apa… ini hari berduka seluruh keluarga dan ini pula kesempatan dia untuk meminta maaf dan mencoba menyambung tali silaturahmi kembali walau dengan meredam perasaan gengsi dan mencoba berjiwa besar dengan mengedepankan rasa mengalah. Dan kelihatannya pintu maaf itu terbuka buat dia setidaknya pada saat itu dan hubungan keluarga yang seperti sebelum-sebelumnya mulai terlihat walau agak kaku. “Mudah-mudahan keadaan damai ini berjalan terus,” harap Papa.
Ah… rupanya ini rencana Tuhan yang ga’ pernah kita bisa menebak sebelumnya, menggiring suatu keadaan ke arah yang lebih baik walaupun pada awalnya terlihat menyedihkan, menyusahkan atau apalah namanya…
Buat Om Amin…. sabar, ya!








