Emang rada atau bahkan cenderung sangat susah kalo orang udah kecanduan merokok. Papa tuh…! Ada sepuluh tahunan merokok dan ga’ ada tanda-tanda mo’ berhenti. Dan sering kali nyusahin diri sendiri kalo udah tengah malem dan lagi asik ngerjain sesuatu, tiba-tiba rokoknya abis. Dengan langkah sigap langsung pergi cari warung rokok, dan kecanduannya itu mengalahkan semua rasa takut akan sesuatu di malam hari buta. Dan ini salah satu gejala penyimpangan yang udah ga’ manusiawi bagi seorang perokok.
Dan ga’ berhenti di situ aja, sering kali malem-malem Papa cari rokok ke warung terdekat dan langsung ngebangunin Wa’ Imah yang udah tidur. Dan ini juga gejala penyimpangan yang ga’ maen-maen dan menimbulkan terusiknya ‘hak untuk istirahat dengan tenang’ bagi orang lain. Dua gajala itu merupakan sebagian kecil kerugian yang ditimbulkan bagi seorang pecandu rokok kelas berat selain banyak kerugian lain dari sisi kesehatan yang bisa kita temui referensinya dimana-mana.
Waktu itu tanggal 20 Mei 2008, yang merupakan peringatan 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional bagi bangsa Indonesia dan sementara pada hari yang sama secara fisik Papa mengalami ‘keambrukkan’, Papa lagi kena cacar dan sekujur badannya panas tinggi yang merupakan gejala parsial dari sakit cacarnya. Dalam keadaan demikianlah sebenarnya ‘kebangkitan’ Papa muncul, dimana momen sakit cacar ini yang men-trigger Papa untuk tidak ‘menikmati’ candu rokok lagi.
Aku orang pertama yang ditanya Papa, “Anna… Papa berhenti ngerokok atau jangan?” “Berhenti aja!” kataku langsung. Beberapa hari berikutnya Papa emang keliatan ga’ ngerokok lagi dan terlihat emang ga’ mudah meninggalkan kebiasannya itu, Papa keliatan gelisah dan linglung dan itu terjadi dalam kurun 2 sampai 3 minggu pertama aja. Dan sekarang udah berjalan bulan ke 2. Aku yakin Papa pasti bisa untuk selanjutnya ga’ ngerokok lagi!









