Al-Barkah Dan Kampanye
Hari ini 1 Syawal 1429 H, hari raya Iedul Fitri, hari kemenangan bagi umat Islam. Sedari pagi Mama udah bangunin Papa dan aku untuk segera mandi serta bersiap berangkat ke masjid Agung Albarkah, menunaikan sholat Iedul Fitri bersama warga lainnya yang memang ga’ pulang kampung atau malah memang ga’ punya kampung. Kata Papa, seperti tahun lalu sholat Ied di masjid kami selalu di penuhi jama’ah hingga ke ke jalan raya serta plasa seberang masjid. Ini terjadi mungkin karena sholat Ied memang hanya setahun sekali atau mungkin juga karena memang ada semangat baru yang mengalir dalam tubuh kita dalam korelasinya dengan hari Raya Iedul Fitri ini.
Sholat Ied tahun ini kemungkinan jama’ah ga’ sampai ke plasa seberang masjid, karena renovasi masjid sudah rampung dan bagian dalam masjid serta lantai duanya sudah bisa dipergunakan secara utuh.
Masjid Agung sekarang sudah bagus, megah dan kaya’nya makin menjadi kebanggaan warga kota kami. Konon pengurusnya pun sudah hand over ke pengurus baru yang naga-naganya memiliki misi yang lebih membawa muatan politis. Kata Papa lagi, pergantian pengurus masjid kaya’nya terjadi menjelang awal bulan Ramadhan, sehingga pada malam pertama sholat Tarawih peralihan pengurus dari yang lama ke yang baru diumumkan di mimbar masjid sebelum sholat Tarawih dimulai. Juga ga’ ketinggalan telah disebarkan dan dibagikannya flyer jadwal Imsyakiyah Ramadhan 1429 H dengan photo ketua pengurus mesjid yang baru dengan ‘jas kuning’ serta dominasi warna semburat kuning sebagai back ground.
”Ah… kenapa harus pake muatan politis, sih? Ini ‘kan urusan kepengurusan masjid tempat umat beribadah dan berkomunikasi dengan Tuhannya, kenapa harus dicampur aduk dengan kepentingan kampanye?”
Apa karena ketua pengurus masjid yang baru ini mempunyai jabatan sekretaris di partainya sehingga merasa bertanggung jawab untuk menarik simpati masyarakat, maka dengan berkedok kepengurusan masjid bisa ‘sambil menyelam minum air’? Apa dia ngga’ ‘malu’ berbuat seperti itu? Apa dia ga’ berfikir bahwa kelakuannya itu mengotori masjid dengan urusan-urusan duniawi yang memang penuh muslihat itu?”
Dan berbagai pertanyaan lain yang berkecamuk di pikiran Papa.
Sebagai orang yang memang awam terhadap urusan politik Papa cuma berharap bahwa semoga semua urusan yang bermuatan politis jangan sampai masuk apalagi sengaja dibawa dan dicampur aduk ke dalam urusan agama. Dan semoga Allah mengampuni kelalaian ini!









March 3, 2009 at 4:02 pm
Bagaimana dengan jaman Rasulullah dulu??
Politik sepertinya sesuatu yang menyeramkan