Ternyata Masih Bersahabat
Papa ga’ bisa tidur siang walaupun tadi malem tidur lewat tengah malem dan lalu sedari pagi banyak kerjaan dan keliatan cape banget. Kenapa, ya…? Ternyata, oh ternyata… ini hari sabtu, 19 Oktober 2008 Papa ada janji ketemu sama temen lama yang kurang lebih udah 10 tahunan ga’ ketemu. Kenapa harus gelisah sih, Pa?
”Bukan apa-apa… Papa dan temen lama itu selain udah lama ga’ ketemu, kami lost contact karena ada sedikit masalah yang ga’ mengenakan sehingga Papa dan teman lama itu saling berprasangka.” kata Papa.
Papa ga’ cerita masalah sebenarnya karena Papa ga’ mao mengungkit kenangan lama dan mengubah tujuan untuk merajut silaturahmi yang beberapa lama ini rada kusut. Poko’nya fokus pada nilai positif persahabatan dan silaturahmi.
Jam 4 sore Papa langsung berangkat ke tempat tujuan dan pulang kembali ke rumah udah jam 21.30. Kaya’nya semua berjalan dengan lancar tanpa hambatan berarti, karena raut Papa terlihat senang dan sumringah, kaya lepas beban gitu.
Persahabatan memang bukan hanya diukur dari kurun waktu pertemanan tetapi banyak aspek terlibat dalam melewati kurun waktu tersebut, emosi, tenggang rasa, memberi dan menerima, menghargai, pengertian serta banyak lagi hal lainnya. Begitu berartinya sosok manusia satu dengan manusia lainnya dalam ikatan persahabatan yang walaupun tak pernah terungkapkan dalam kata-kata, sehingga betapa kehilangannya bila salah satu harus pergi dari pergumulan berbagai aspek ini.
Sebelum ketemu, beberapa bulan sebelumnya Papa udah sempet minta ma’af tentang hal-hal yang pernah terjadi yang dilakukan Papa secara sengaja ataupun ga’ sengaja pada seorang sahabat itu melalui sms. Papa benar-benar minta ma’af karena ingin menjalani hidup dengan lebih baik dan lebih positif tanpa dihantui rasa bersalah dan membayangi hal-hal yang ga’ perlu. Memang berat melakukannya tapi memang harus dilakukan walaupun berjalan lambat dan satu per satu, karena hal baik memang harus dimulai semampu kita saja dulu.
”Ketika bertemu, Papa langsung mengucap kata ma’af sambil berjabat erat lalu berpelukkan. Semua terasa cair dan dada ini pun terasa lega. Setelah itu… semua berjalan seperti dulu, ngobrol ngalor-ngidul dan saling berbagi walaupun sekedar berbagi cerita. Alhamdulillah… ternyata kami masih bersahabat…” kata Papa.








